NASEHAT NASEHAT

 

NASEHAT  NASEHAT

MULYADI

Jalankan perintah Allah  jauhi laranganNya

Ridhalah  terhadap ketentuan Allah jangan menyangkal

Sabarlah  menerima cobaan dan  menjalankan ketaatan,

Syukurlah dengan lisan, hati, dan perbuatanmu

Jauhi  berbuat syirik dan mengandalkan nafsu

Hindarkanlah dirimu dari keserakahan hawa nafsumu

Mohonlah  ampunan dan perlindungan hanya pada Allah

Lakukanlah ibadah-ibadahmu  dan hindarkanlah dosa-dosa

Tunduklah kepada hukum syariat  yang  memuat sesuatu perkara

Jika tidak terdapat hukum di dalam syari’at mengenai perkara,

Bertindaklah menurut perintah batinmu yang dalam

Berserah diri dan bertawakal sepenuhnya kepada Allah

 Jika mendapat nikmat bersyukurlah. Namun jika  bencana menimpa bersyabarlah

Bencana yang datang kepadamu bukannya menghancurkanmu, melainkan akan mengujimu, Mengesahkan kesempurnaan imanmu, menguatkan kepercayaanmu

Dan memberikan kabar baik ke dalam batinmu

Gunakanlah segala daya dan upayamu untuk mengabdikan diri kepada Allah.

Gunakan  ilmu, akal, kepercayaan dan cahaya kerohanianmu mengabdikan diri kepada Allah,

Kamu akan diliputi cahaya terang benderang dan tidak lagi berada di dalam kegelapan.

B     Berpegang teguhlah kepada Allah dan hukum-hukum-Nya,

Taatlah kamu  pada Allah seluruh alam ini akan menghambakan diri kepada kamu 

Kosongkan hatimu dari mahluk, hawa nafsu , isilah hatimu hanya ingat pada Allah

Kebahagiaan  itu akan datang  dengan ketaatan  dan  ridha dengan ketentuan Allah

Allah akan memberimu kesenangan, keselamatan, kesentosaan, kasih sayang dan ridha Illahi.

Kebanyakan bencana menimpa anak Adam akibat keluhan dan ketidak ridhaan terhadap Allah

Patutkah seorang hamba Allah mengeluh, muram dan tidak berpuas hati ?

Padahal Allah itu Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Adil, Maha Tahu dan Maha Bijaksana.

Dosa akan menjauhkan manusia dari Allah ketaatan akan mendekatkan diri pada-Nya.

Allah  menguji hamba-hamba-Nya yang beriman sesuai dengan derajat keimanan

   Keimanan seseorang yang 

REFLEKSI , PIKIRAN , DAN KEGUNDAHAN TERTUANG DALAM KUMPULAN PUISI

 

GURU INSPIRATIF

Karya : Mulyadi


Niat kuat

Menghantarkan anak menjadi hebat.

Pagi buta telah berangkat.

Sambut siswa penuh semangat.

Guru engkau pemberi inspirasi.

Lahirkan siswa berprestasi.

Guru engkau sebagai pemacu.

Hasilkan siswa maju.

Guru engkau pemberi semangat.

Hasilkan siswa yang kuat.

Guru engkau seorang perindu.

Lahirkan siswa berperilaku.

Guru jasa dan rejekimu

Tergantung pada niatmu.

Bahagia ataupun sedih dirimu

Tergantung pada cara menyikapimu.

                                         Samarinda, 25 November 2018.

                                          BANK KREATIVITAS SPANSA.



IBU PERKASA

Karya  : MULYADI

 

Saatku menyendiri, merenung, mengingat, massa Indah

Terbayang, kasih sayang, harapan,  sang bunda

Berbagai upaya  jitu dilakukan,

Demi  kesuksesan anak kesayangan

Pagi buta  tlah siapkan air hangat, sragam sekolah,

Dan tak lupa sepiring  nasi pecel 

Lampu ublik saksi  bunda mendampingiku belajar

Keinginan, harapan, ibu  tak ku sia siakan

Subuh nan gelap, aku berangkat menuntut ilmu

Sepeda Ontel Jatayu Hijau  mendampingiku

Tak terasa 1 jam perjalanan sampai sekolah idaman Ibu

Disinilah,  digembleng, dididik  disiplin

Ibu ..  engkau adalah semangat hidupku

Semangat  kerjamu tak kenal lelah

sampai tuapun engkau selalu menemaniku

Mengurusiku  seperti  waktu kecil

Tiap pagi  slalu siapkan nasi pecel kesukaanku

Ibu… engkau juga curahkan kasih sayang pada cucumu

Memberikan semangat, harapan, pendidikan

      Anakmu  tak sanggup membalas budi baikmu

Hanya doa yang dapat kuberikan

Tiap menghadap sang ilahi slalu, kupanjatkan doa untukmu

Allohummaghfir lii wa li waalidayya warham humaa kamaa Robbayaa nii shoghii roo. Aamiin

Samarinda, 24 Maret 2019

Pukul 13. 10 wita

BANK KREATIVITAS  SPANSA

 


JABATAN

Karya : Mulyadi

 

Jabatan banyak dirindukan orang

Berbagai cara dilakukan

Mendekat, menyikut, berbohong

Untuk  mendapatkan

Semua itu tak perlu dilakukan

Berusaha, bekerja baik  lebih diutamakan

Orang lain akan memperhatikan

Doa  pendorong dikabulkan

Jabatan adalah amanah

Wajib dipertanggungjawabkan

Di Akhirat pasti ditanyakan

Siapapun tak dapat menyebunyikan

Banyak orang di negeri ini  terheran

Berbagai  persoalan bermunculan

Ada  jabatan diberikan karena kedekatan

Bukan berdasar kompetensi dan kelayakan

ASN bermasalah dipromosikan

Orang penuh pengabdian tersingkirkan

Sakit hati dan rasa malas bermunculan

Akibat kebijakan  berdasar kedekatan.

 

                                                         Samarinda, 11 April 2019

                                                         BANK KREATIVITAS SPANSA

                                                         Pukul 08.32 wita




BANGUN KEBERSAMAAN

Karya : Mulyadi

 

Niat hati ingin bangun kebersamaan

Demi kesuksesan gemilang

Individu egois penghalang

Menyatu  jadi aklak buruk

Tiap rapat kuingatkan

Kurangi ego tambah kebersamaan

Kita pasti mati,  ajal semakin dekat

Niatkan aktivitas sebagai Ibadah

Niat Ihlas karena Allah.

Bukan sanjungan dan  perhatian

Hidayahlah yang diharapkan

Ayoo….. ! Satukan tekat

Bangun kebersamaan

Raih kesuksesan 

Dunia dan akhirat. Aamiin.

 

Samarinda, 11 April 2019

BANK KREATIFITAS SPANSA

Pukul 07.01 wita



Proposal Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Pendidikan Kewarganegaraan

A. Judul Penelitian : Penerapan Model Moral Reasoning Untuk Meningkatkan Keberanian Mengemukakan  Pendapat Dan Mengambil Keputusan Pada Mata Pelajaran PKn Kelas IX SMP Negeri 22 Samarinda

B. Bidang Kajian : Desain Dan Strategi Pembelajaran Di Kelas

C. Pendahuluan

Guru memiliki peranan sangat strategis dalam proses pembelajaran. Peran startegis guru dalam proses pembelajaran ini memiliki dampak pada kompetensi yang dicapai siswa (pengetahuan, sikap, keterampilan). Kompetensi siswa akan berkembang secara optimal tergantung bagaimana guru memposisikan diri dan menempatkan posisi siswa dalam pembelajaran. Selama ini dalam pembelajaran, siswa diposisikan sebagai obyek, sedangkan guru memposisikan diri sebagai subyek pembelajaran. Akibatnya guru lebih aktif dan dominan dalam proses pembelajaran. Seharusnya, guru dalam pembelajaran lebih memposisikan diri sebagai fasilitator, motivator, dan mediator sehingga siswa dapat mengembangkan kompetensinya.

Berdasarkan wawancara dan pengamatan dengan guru PKn bahwa metode pembelajaran yang sering digunakan dalam pembelajaran adalah ceramah diselingi tanya jawab, pemberian tugas dan diskusi. Penempatan posisi dan pemilihan metode dalam pembelajaran yang kurang tepat ini berpengaruh terhadap iklim kelas. Seringnya menggunakan metode ceramah yang diselingi tanya jawab, pemberian tugas, dan diskusi yang kurang terarah dalam pembelajaran mengakibatkan siswa kurang aktif. Kegiatan yang dilakukan siswa hanya mendengar dan kadang-kadang mencatat, itupun hanya dilakukan oleh sebagian kecil siswa. Sedangkan, siswa yang lain lebih banyak berbicara dengan teman duduk sebangku.

Guru menyadari bahwa tindakan tersebut mengakibatkan situasi dan kondisi yang kurang mendukung untuk pencapaian tujuan pembelajaran. Oleh kerena itu, dalam pembelajaran dengan cepat merubah startegi dengan mengajukan beberapa pertanyaan kepada siswa. Maksudnya adalah agar siswa lebih perhatian terhadap materi yang dijelaskan. Namun demikian, pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan materi pembelajaran yang ditanyakan kepada siswa kurang direspon siswa dan hasilnya tidak seperti yang diharapkan, hanya sebagian kecil siswa yang menjawab, sedangkan siswa yang lain lebih banyak berdiam diri.

Pembelajaran satu arah yang dikembangkan guru selain membosankan dan kurang efektif dalam mencapai tujuan pembelajaran juga berakibat pada aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran. Akibat dari penerapan metode ceramah yang diselingi tanya jawab, pemberian tugas antara lain siswa memiliki sikap negatif terhadap pembelajaran, kurang berani mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan, malas bertanya dan menjawab pertanyaan, kurang serius dalam mengikuti pelajaran, kurang berminat dan termotivasi dalam belajar, serta kurang menghargai dan bekerjasama sesama siswa. Berdasarkan pengalaman dan pengamatan di kelas bahwa penggunaan metode pembelajaraan satu arah mengakibatnya siswa yang berani mengemukakan pendapat minim hanya 15 % .

Permasalahan sebagaimana tersebut di atas harus segera diatasi atau di teliti sehingga akan meningkatkan kompetensi siswa antara lain keberanian mengemukakan pendapat, keberanian mengambil keputusan dengan pertimbangan moral, keberanian bertanya dan menjawab, kemampuan bekerjasama dan menghargai orang lain yang akhirnya akan meningkatkan hasil dan mutu pembelajaran. Namun, jika tidak segera diatasi atau diteliti akan memperoleh kerugian antara lain rendahnya kompetensi yang akan dicapai siswa (pengetahuan, sikap, keterampilan), hasil belajar, mutu pembelajaran dan mutu pendidikan. Oleh karena itu, hal tersebut memerlukan kreatif dan inovatif dalam merancang pembelajaran mulai dari menyusun silabus dan rencana pelaksanaan pengajaran (RPP) sampai dengan mengaplikasikan dalam kegiatan pembelajaran sehingga akan menghasilkan siswa yang aktif dalam kegiatan pembelajaran, berpikir kreatif, kritis dan rasional, serta memiliki hasil belajar yang baik.

Berkaitan dengan hal tersebut di atas peneliti ingin meneliti melalui penelitian tindakan kelas tentang penerapan model Moral Reasoning untuk meningkatkan keberanian siswa mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan dengan alasan serta menggunakan pertimbangan moral. Diharapkan hasil penelitian ini akan memberikan kontribusi langsung pada peningkatan kualitas pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan sehingga kompetensi dan hasil belajar siswa dapat ditingkatkan.

D. Perumusan Dan Pemecahan Masalah

1. Perumusan Masalah

Berdasarkan analisis masalah pada latar belakang, yang menjadi akar penyebab siswa dalam kegiatan pembelajaran pasif, memiliki sikap negatif terhadap pembelajaran, kurang berani mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan, malas bertanya dan menjawab pertanyaan, kurang serius dalam mengikuti pelajaran, kurang berminat dan termotivasi dalam belajar, serta kurang menghargai dan bekerjasama sesama siswa adalah guru belum menerapkan model pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa dalam pembelajaran salah satunnya Model Moral Reasoning.

Ryan, (2003) Pembelajaran memecahkan masalah dengan menggunakan moral reasoning ternyata memberikan pengaruh iklim belajar dan kemampuan mengemukakan pendapat secara positif serta memberikan dukungan kepada pendidikan karakter.

Berdasarkan permasalahan tersebut maka dapat dirumuskan rumusan masalah sebagai berikut : Apakah model moral reasoning dapat meningkatkan keberanian mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan dengan pertimbangan moral dalam kegiatan pembelajaran ?

Rumusan masalah tersebut dapat dirinci dalam pertanyaan penelitian

sebagai berikut:

(1) Bagaimana aktivitas siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan model moral reasoning?

(2) Bagaimana aktivitas guru dalam mengelola pembelajaran dengan model moral reasoning?

(3) Bagaimana perkembangan moral siswa dengan menggunakan model moral reasoning?



2. Pemecahan Masalah

Untuk mewujudkan siswa yang dapat berfikir secara rasional, kritis, dan kreatif yakni keberanian mengemukakan pendapat, mengambil keputusan yang disertai dengan pertimbangan moral memerlukan lingkungan belajar yang mendukung antara lain strategi atau model pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat mengembangkan potensinnya.

a. Berkaitan dengan hal tersebut solusi yang diajukan untuk memecahkan masalah adalah sebagai berikut :

Penerapan model Pembelajaran Moral Reasoning Kohlberg. Model ini diharapakan dapat membantu siswa untuk berani mengemukakan pendapat, mengambil keputusan dengan alasan serta menggunakan pertimbangan moral, kemampuan bekerjasama, dan menghargai orang lain. Selain itu, model ini dapat meningkatkan keterampilan guru dalam mengembangkan dan menerapkan model pembelajaran di kelas.

b. Untuk meningkatkan aktivitas siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran dilakukan beberapa cara antara lain:

1. Guru membuat cerita yang dilematis baik dari kejadian di masyarakat sekitar maupun cerita dilematis buatan guru sendiri ”DILEMA MORAL” kemudian dibagikan kepada semua siwa dalam kelas

2. Guru membentuk kelompok diskusi untuk mendiskusikan delima moral.

3. Guru memberikan kesempatan yang sama kepada semua siswa untuk mengemukakan pendapatnya dan mengambil keputusan berkaitan dengan dilema moral yang diberikan kepada siswa

4. Guru menghargai semua pendapat dan keputusan maupun argumentasi yang disampaikan oleh siswa baik yang kritis maupun yang kurang

5. Guru memberikan pujian pada siswa yang telah berani mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan dengan argumentasi yang diajukan

6. Guru memberi motivasi kepada siswa yang belum berani mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan, agar ada keberanian untuk berpendapat dan mengambil keputusan

c. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa dilakukan cara cara sebagai berikut:

Guru menyampaikan kepada siswa bahwa aktifitas yang dilakukan selama kegiatan pembelajaran (mengemukakan pendapat, menghargai orang lain, bekerja sama dalam diskusi) akan dinilai. Pada intinya dilema moral adalah membantu siswa agar perkembangan moralnya tidak terhambat sihingga dapat mengambil keputusan dengan pertimbangan moral sesuai dengan perkembangan moral yang dimilki.



3. Tujuan Penelitian

Tujuan yang akan dicapai dari Peneltian ini adalah :

1.Tujuan Umum

a) Meningkatan kualitas pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di SMP Negeri 22 Samarinda.

b) Memperoleh strategi pembelajaran yang kreatif, inovatif, menyenangkan dan menantang

2. Tujuan khusus

a. Bagi guru

1. Untuk meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun dan mengembangkan program pembelajaran serta melaksanakan strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa.

2. Untuk meningkatkan kemampuan guru dalam melaksanakan penelitian tindakan kelas untuk perbaikan atau peningkatan kualitas pembelajaran dalam mata pelajaran yang diasuhnya.



b. Bagi siswa

1. Meningkatkan keberanian mengemukakan pendapat

2. Meningkatkan keberanian mengambil keputusan dengan alasan dan pertimbangan moral

3. Mengetahui tingkat perkembangan moral siswa

4. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi guru dan siswa dalam meningkatkan mutu pembelajaran, mengembangkan kemampuan berfikir kritis dan kreatif, meningkatkan aktivitasnya dalam pembelajaran dan meningkatkan keterampilan guru dalam pembelajaran

Secara khusus manfaat langsung yang dapat diperoleh dari hasil penelitian ini adalah :

1. Siswa dapat meningkatkan kopetensinnya khususnya keberanian mengemukakan pendapat, mengambil keputusan dengan pertimbangan moral, menghargai dan kerjasama dengan orang lain

2. Pembelajaran lebih efektif dan efisien, kreatif, bermakna dan berfokus pada siswa.

3. Mendorong penerapan inovasi pembelajaran agar pembelajaran lebih bermutu, menarik dan bermakna, produktif, dialogis, dan manusiawi.



E. Kajian Pustaka

Siswa sebagai generasi penerus bangsa perlu dibina secara terus menerus. Dengan demikian, diharapan mereka memiliki kemampuan berfikir secara rasional, kritis, dan kreatif, sehingga mampu memahami berbagai wacana kewarganegaraan; memiliki ketrampilan intelektual dan keterampilan berpartisipasi secara demokratis dan bertanggung jawab; memiliki watak dan kepribadian yang baik, sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

1. Model Moral Reasoning

Untuk mewudkan siswa yang dapat berpiki rasional kritis, kreatif, dan memiliki watak yang baik sebagimana tersebut di atas diperlukan pendidikan demokrasi dan pendidikan nilai dan moral. Ada Lima pendekatan pendidikan nilai yaitu: (1) Pendekatan penanaman nilai (inculcation approach), (2) Pendekatan perkembangan moral kognitif (cognitive moral development approach), (3) Pendekatan analisis nilai (values analysis approach), (4) Pendekatan klarifikasi nilai (values clarification approach), dan (5) Pendekatan pembelajaran berbuat (action learning approach) .(Zakaria: 2001)

Untuk meningkatkan kemampuan siswa mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan dengan pertimbangan moral, salah satunya menggunakan pendekatan atau model perkembangan moral kognitif (cognitive moral development approach) yang terkenal dengan Moral reasoning. Model atau Pendekatan ini dikatakan pendekatan perkembangan kognitif karena karakteristiknya memberikan penekanan pada aspek kognitif dan perkembangannya. Pendekatan ini mendorong siswa untuk berpikir aktif tentang masalah-masalah moral dan dalam membuat keputusan-keputusan moral. Perkembangan moral menurut pendekatan ini dilihat sebagai perkembangan tingkat berpikir dalam membuat pertimbangan moral, dari suatu tingkat yang lebih rendah menuju suatu tingkat yang lebih tinggi (Elias, 1989).

Tujuan yang ingin dicapai oleh pendekatan ini ada dua hal yang utama. Pertama, membantu siswa dalam membuat pertimbangan moral yang lebih kompleks berdasarkan kepada nilai yang lebih tinggi. Kedua, mendorong siswa untuk mendiskusikan alasan-alasannya ketika memilih nilai dan posisinya dalam suatu masalah moral (Superka, et. al., 1976; Banks, 1985).

Pendekatan perkembangan kognitif pertama kali dikemukakan oleh Dewey (Kohlberg 1971, 1977). Selanjutkan dikembangkan lagi oleh Peaget dan Kohlberg (Freankel, 1977; Hersh, et. al. 1980). Dewey membagi perkembangan moral anak menjadi tiga tahap (level) sebagai berikut: (1) Tahap "premoral" atau "preconventional". Dalam tahap ini tingkah laku seseorang didorong oleh desakan yang bersifat fisikal atau sosial; (2) Tahap "conventional". Dalam tahap ini seseorang mulai menerima nilai dengan sedikit kritis, berdasarkan kepada kriteria kelompoknya. (3) Tahap "autonomous". Dalam tahap ini seseorang berbuat atau bertingkah laku sesuai dengan akal pikiran dan pertimbangan dirinya sendiri, tidak sepenuhnya menerima kriteria kelompoknya.

Piaget berusaha mendefinisikan tingkat perkembangan moral pada anak-anak melalui pengamatan dan wawancara (Windmiller, 1976). Dari hasil pengamatan terhadap anak-anak ketika bermain, dan jawaban mereka atas pertanyaan mengapa mereka patuh kepada peraturan, Piaget sampai pada suatu kesimpulan bahwa perkembangan kemampuan kognitif pada anak-anak mempengaruhi pertimbangan moral mereka.

Kohlberg (1977) juga mengembangkan teorinya berdasarkan kepada asumsi-asumsi umum tentang teori perkembangan kognitif dari Dewey dan Piaget di atas. Seperti dijelaskan oleh Elias (1989), Kohlberg mendefinisikan kembali dan mengembangkan teorinya menjadi lebih rinci. Tingkat-tingkat perkembangan moral menurut Kohlberg dimulai dari konsekuensi yang sederhana, yang berupa pengaruh kurang menyenangkan dari luar ke atas tingkah laku, sampai kepada penghayatan dan kesadaran tentang nilai-nilai kemanusian universal. Lebih tinggi tingkat berpikir adalah lebih baik, dan otonomi lebih baik daripada heteronomi. Tahap-tahap perkembangan moral diperinci sebagai berikut:

1 : Pra-konvensional

Pada tingkatan ini, anak merespon aturan tradisi, label baik-buruk; benar-salah, dengan menginterpretasi label dalam pemahaman hedonistik dan konsekuensi dari tindakan. Tingkatan ini juga menunjukkan bahwa individu menghadapi masalah moral dari segi kepentingan diri sendiri. Seseorang tidak menghiraukan apa yang dirumuskan masyarakat, akan tetapi mementingkan konsekuensi konsekuensi dari perbuatannya ( hukuman, pujian, penghargaan ). Anak cenderung menghindari perbuatan yang menimbulkan resiko. Tingkatan ini dibagi menjadi dua tahap :

Tahap 1 : Orientasi pada hukuman dan Kepatuhan. Jadi, alasan anak pada tahap ini bersifat phisik. Apa yang benar adalah bagaimana menghindari hukuman.

Tahap 2 : Orientasi pada instrumental. Tindakan yang benar apakah sudah sesuai atau memenuhi kebutuhan seseorang berdasarkan persetujuan Pada tahap ini adil dipandang sebagai sesuatu yang bersifat balas budi, saling memberi.

2. Konvensional

Pada tingkatan ini anak mendekati permasalahan dari segi hubungan individu- masyarakat. Seseorang menyadari bahwa masyarakat mengharapkan agar ia berbuat sesuai dengan norma-norma dalam masyarakat. Perhatian kepada nilai keluarga, kelompok atau bangsa diterima sebagai nilai dalam dirinya. Terdapat konformitas interpersonal.

Tahap 3: Orientasi “good boy-nice girl”. Persetujuan antar personal. Menjadi orang yang diharapkan , dan tingkah laku yang baik adalah menyenangkan atau menolong orang lain . Pertimbangannya adalah “perhatian” (ia berbuat baik). Motivasi perbuatan moral pada tingkatan ini ialah keinginan memenuhi apa yang diharapkan orang yang dihargai. Pada diri anak telah timbul kesadaran bahwa orang lain mengharapkan kelakuan tertentu daripadanya.

Tahap 4 : Orientasi Kesadaran sosial. Perilaku yang benar adalah memenuhi kewajiban ( kesadaran imperatif ). Pada tingkatan ini, anak tidak lagi bertindak berdasarkan harapan orang yang dihormati, namun apa yang diharapkan oleh masyarakat umum. Dalam tingkatan ini hukum tampil sebagai nilai yang utama, yang dapat mengatur kehidupan masyarakat.

3.Post-Konvensional

Ada usaha yang jelas untuk memiliki moral dan prinsip. Memandang prinsip sebagai identifikasi dirinya.

Tahap 5: Orientasi Kontrak sosial dan hak-hak individu. Tindakan yang benar ditentukan dalam istilah kebenaran individu secara umum dan standard yang sudah diuji secara kritis dan disetujui oleh seluruh masayarakat. Suatu perasaan kesetiaan kepada hukum demi kesejahteraan semua orang dan hak-haknya. Pada tahap ini memandang kelakuan baik dari segi hak dan norma umum yang berlaku bagi individu yang telah diselidiki secara kritis dan diterima baik oleh seluruh masyarakat Kewajiban moral dipandang sebagai kontrak sosial. Komitmen sosial dan legal dipandang sebagai hasil persetujuan bersama dan harus dipatuhi oleh yang bersangkutan.

Tahap 6 : Orientasi Prinsip Ethis Universal. Kebenaran ditentukan oleh prinsip ethis di dalam dirinya berdasar pada pemahaman logika universal ( keadilan, kesamaan hak dan kepatutan sebagai makluk individu). Seseorang bertindak menurut prinsip universal. Seseorang wajib menyelamatkan jiwa orang lain.

Asumsi-asumsi yang digunakan Kohlberg (1971,1977) dalam mengembangkan teorinya sebagai berikut: (a) Bahwa kunci untuk dapat memahami tingkah laku moral seseorang adalah dengan memahami filsafat moralnya, yakni dengan memahami alasan-alasan yang melatar belakangi perbuatannya, (b) Tingkat perkembangan tersusun sebagai suatu keseluruhan cara berpikir. Setiap orang akan konsisten dalam tingkat pertimbangan moralnya, (c) Konsep tingkat perkembangan moral menyatakan rangkaian urutan perkembangan yang bersifat universal, dalam berbagai kondisi kebudayaan.

Sesuai dengan asumsi-asumsi tersebut, konsep perkembangan moral menurut teori Kohlberg memiliki empat ciri utama. Pertama, tingkat perkembangan itu terjadi dalam rangkaian yang sama pada semua orang. Seseorang tidak pernah melompati suatu tingkat. Perkembangannya selalu ke arah tingkat yang lebih tinggi. Kedua, tingkat perkembangan itu selalu tersusun berurutan secara bertingkat. Dengan demikian, seseorang yang membuat pertimbangan moral pada tingkat yang lebih tinggi, dengan mudah dapat memahami pertimbangan moral tingkat yang lebih rendah. Ketiga, tingkat perkembangan itu terstruktur sebagai suatu keseluruhan. Artinya, seseorang konsisten pada tahapan pertimbangan moralnya. Keempat, tingkat perkembangan ini memberi penekanan pada struktur pertimbangan moral, bukan pada isi pertimbangannya.

2. Penerapan Moral Reasoning Dalam Pembelajaran

Pendekatan perkembangan kognitif (moral reasoning) mudah digunakan dalam proses pendidikan di sekolah, karena pendekatan ini memberikan penekanan pada aspek perkembangan kemampuan berpikir. Oleh karena, pendekatan ini memberikan perhatian sepenuhnya kepada isu moral dan penyelesaian masalah yang berhubungan dengan pertentangan nilai tertentu dalam masyarakat, penggunaan pendekatan ini menjadi menarik. Penggunaannya dapat menghidupkan suasana kelas. Teori Kohlberg dinilai paling konsisten dengan teori ilmiah, peka untuk membedakan kemampuan dalam membuat pertimbangan moral, mendukung perkembangan moral, dan melebihi berbagai teori lain yang berdasarkan kepada hasil penelitian empiris.

Proses pengajaran nilai menurut Model moral reasoning didasarkan pada delima moral, dengan menggunakan metode diskusi kelompok. Diskusi itu dilaksanakan dengan memberi perhatian kepada tiga kondisi penting. Pertama, mendorong siswa menuju tingkat pertimbangan moral yang lebih tinggi. Kedua, adanya dilemma, baik dilemma hipotetikal maupun dilemma faktual berhubungan dengan nilai dalam kehidupan seharian. Ketiga, suasana yang dapat mendukung bagi berlangsungnya diskusi dengan baik (Superka, et. al. 1976; Banks, 1985). Menurut Reimer (1983 : 84) terdapat 10 isu moral universal (1). Laws and rules, (2) Conscience, (3) Personal roles of affection, (4) Authority, (5) Civil rights, (6) Contract, trust, and justice in exchange (7) Punishmen, (8) The Value of life , (9) Property rights and values, (10) Truth

Goleman (2003) menjelaskan bahwa moral reasoning lebih bersifat Emosional inteligensi, sehingga emosional inteligensi mencerminkan karakter. Dengan demikIan, menurut peneliti implementasi model moral reasoning dapat membantu siswa untuk berpikir kritis dan mengelola emosi yang akhirnya menjadi warga yang baik. Oleh karena itu, agar siswa dapat mengemukakan pendapat dan dapat membuat keputusan dengan pertimbangan moral yang lebih tinggi (intelektual emosional) guru ataupun siswa harus kreatif dan enovatif untuk mencari atau membuat suatu masalah yang dilematis yang di diskusikan di dalam kelas

Metode diskusi adalah suatu cara mengajar yang dicirikan oleh suatu keterikatan pada suatu topik atau pokok pernyataan atau problem dimana para peserta diskusi dengan jujur berusaha untuk mencapai atau memperoleh suatu keputusan atau pendapat yang disepakati bersama. Diskusi sebagai metode pembelajaran lebih cocok dan diperlukan apabila guru hendak:

a. Memanfaatkan berbagai kemampuan yang ada pada siswa

b. Memberi kesempatan pada siswa untuk mengeluarkan kemampuannya

c. Mendapatkan balikan dari siswa apakah tujuan telah tercapai

d. Membantu siswa belajar berpikir secara kritis

e. Membantu siswa belajar menilai kemampuan dan peranan diri sendiri maupun teman-teman

f. Membantu siswa menyadari dan mampu merumuskan berbagai masalah sendiri maupun dari pelajaran sekolah

g. Mengembangkan motivasi untuk belajar lebih lanjut.

Lebih lanjut Roestiyah (1982: 56), menjelaskan bahwa metode diskusi dan kerja kelompok cukup efektif. Metode diskusi menurutnya cukup efektif karena dua hal yaitu dapat mempertinggi partisipasi siswa secara individual dan dapat mempertinggi kegiatan kelas sebagai keseluruhan. Sedangkan metode kerja kelompok memiliki keuntungan-keuntungan sebagai berikut (1) dapat memberi kesempatan kepada para siswa untuk menggunakan keterampilan bertanya dan membahas masalah, (2) memberikan kepada siswa lebih intensif mengadakan penyelidikan mengenai suatu kasus atau masalah, (3) dapat mengembangkan kepemimpinan dan mengajarkan keterampilan bersdiskusi, (4) memungkinkan guru untuk memperhatikan individu siswa akan kebutuhan belajar, (5) para siswa lebih aktif bergabung dalam pelajaran dan mereka akan berpatisipasi dalam diskusi (6) dapat memberikan kesempatan kepada para siswa untuk mengembangkan rasa menghargai kepada temannya yang telah menolong kelompok dalam mencapai tujuanya.

Menurut penulis dengan memunculkan isue moral yang delimatis dan membahasnya dalam diskusi kelompok sebagaimana tuntutan model delima moral maka akan mendorong siswa untuk berani mengemukakakan pendapat, mengambil keputusan, menghargai orang lain, dan kemauan bekerjasama sehingga siswa akan dapat berpikir secara kritis dengan tetap menghargai dan bekerjasama dengan orang lain



3. Peran Guru Dalam Pembelajaran Model Moral Reasoning

Peran guru dalam model moral reasoning sangat strategis terutama dalam memotivasi siswa untuk lebih aktif dalam pembelajaran. Peran guru dalam fase diskusi dengan menggunakan model moral reasoning adalah: 1) memastikan anak didik memahami dillema yang disodorkan 2). Membantu anak didik menghadapi komponen-komponen moral yang terdapat dalam permasalahan 3). Mendorong dasar pemikiran anak didik bagi keputusan yang akan diambil dan 4). Mendorong anak didik untuk saling berinteraksi. ( Hersh, 1982 ; Fraenkel, 1977; Nasution, 1989 ). Sedangkan, langkah-langkah diskusi moral dalam penalaran moral menurut Fraenkel ( 1977) adalah sebagai berikut:

1). Menunjukkan isu moral. Anak didik mengidentifikasi situasi dalam dillema moral yang membutuhkan resolusi dengan pertanyaan : “seharusnya, semestinya”, baik ceritera dillema moral yang diberikan oleh guru, maupun bahan informasi yang digali sendiri oleh anak didik melalui membaca di media massa untuk dibahas dan dilaporkan.

2). Mengajukan pertanyaan : “ mengapa” dan jawaban :” alasan moral saya “

3). Memperumit situasi, dengan menambah masalah untuk meningkatkan kompleksitas konflik.

Dengan demikian, menurut peneliti hal yang harus dilakukan guru dalam proses diskusi adalah meenyajikan cerita yang mengandung dilemma. Dalam diskusi siswa didorong untuk menentukan posisi apa yang sepatutnya dilakukan serta mengajukan alasan-alasannya. Kemudian meminta siswa mendiskusikan tentang alasan-alasan itu dengan teman-temannya. Sedangkan, yang harus dilakukan oleh siswa dalam model dilema moral adalah memperhatikan atau mencermati cerita dilematis dari kejadian masyarakat atau yang dibuat oleh guru, mengindentifasi permasalahan dalam dilema moral, aktif dalam mendiskusikan cerita delimatis, mengambil keputusan/sikap terhadap cerita delimatis, mengemukakan pendapat berkaitan delima yang disertai alasan dengan pertimbangan moral, mendengar tanggapan reaksi atau tanggapan kelompok lainnya terhadap pendapat yang baru dikemukakan, mendengarkan dengan teliti dan mencoba memahami pendapat yang dikemukakan oleh siswa atau kelompok lain, menghormati pendapat teman-teman atau kelompok lainnya walau berbeda pendapat.

Aplikasi dalam pembelajaran , instrumen untuk menilai peningkatan dan perkembangan moral Kohlberg terdiri atas situasi, di mana siswa diberi skor menurut aspek mana yang dominan dalam tahapan perkembangan moral ketika memberikan jawaban atas pertanyaan yang ada pada setiap ceritera dillema moral dengan menggunakan metode Global Scoring Method ( GSM ) yang bertumpu pada skor final untuk setiap ceritera dillema ( Porter, 1972 ; Cohen, 1978 ).



4. Hasil Penelitian yang relevan

1. Hardoko (2004) bahwa penggunaan model moral reasoning dalam pembelajaran PKn SMP di Samarinda melalui penelitian tindakan kelas (PTK) dikatakan siswa memiliki kemampuan untuk membuat pertimbangan moral jika dihadapkan pada situasi yang dilematis

2. Ryan, (2003) Pembelajaran memecahkan masalah dengan menggunakan moral reasoning ternyata memberikan pengaruh iklim belajar dan kemampuan mengemukakan pendapat secara positif serta memberikan dukungan kepada pendidikan karakter pada siswa SMU di Amerika.

3. Harstone & May di Amerika (dalam Downey & Kelly,1976), disebutkan bahwa terdapat korelasi yang rendah antara pengetahuan moral dengan tingkah laku moral anak. Ia menjelaskan bahwa seorang anak yang “tahu itu baik, namun berbuat tidak baik”. Dengan demikian anak bersifat verbalistik. Ia kemudian merekomendasi : “anak harus dididik agar sanggup berpikir untuk dirinya sendiri dan mengambil keputusan moral” melalui proses pendidikan moral yang tidak dogmatis, indoktrinatif serta jauhi sikap guru yang otoriter



5. Kerangka Berpikir

Berdasarkan kajian pustaka dan hasil penelitian bahwa model moral reasoning yang implentasinya dalam pembelajaran menggunakan cerita delima moral melalui diskusi kelompok, dapat mendorong siswa untuk berpikir aktif tentang masalah-masalah moral dan dapat membuat keputusan-keputusan moral. Selain itu, moral reasoning juga mempengaruhi iklim belajar dan kemampuan mengemukakan pendapat secara positif. Dengan demikian, model Moral Reasoning diyakini akan dapat meningkatan keberanian siswa untuk mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan dengan pertimbangan moral. Kerangka berpikir tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
Penerapan Model Moral Reasoning

Diskusi Dilema Moral

 
Iklim Belajar & Kelas


Keberanian mengemgemukakan pendapat

Perkembangan Moral Siswa

 
5. Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kajian pustaka dan kerangka berpikir, maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah : “Dengan menerapkan model moral reasoning maka keberanian siswa mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan dengan alasan pertimbangan moral pada mata pelajaran PKn di SMP Negeri 22 Samarinda meningkat”

F. Metode Penelitian

1. Setting Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada kelas IXA SMP Negeri 22 Samarinda pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pada tahun pembelajaran 2008/2009. Kompetensi dasar yang akan diteliti yaitu menjelaskan pentingnya partisipasi masyarakat dalam perumusan kebijakan publik di daerah. Kondisi siswa kelas ini secara akedemik memiliki kemampuan baik, karena kumpulan siswa dari berbagai kelas yang memiliki nilai rata rata di atas 75. Latar belakang sosial ekonomi siswa heterogin. Namun demikian, kelas ini memiliki kelemahan antara lain kurang berani mengemukakan pendapat di depan umum.

2. Waktu Penelitian

Pelaksanaan penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus 2008 sampai November 2007, dengan perincian sebagai berikut:

1. Tahap persiapan, minggu ketiga Agustus 2008

2. Tahap pelaksanaan, minggu Ke 2 Oktober 2008 sampai November 2008

3. Tahap laporan, minggu ke 3 November sd. Minggu 4 November 2008

3. Variabel dan Difinisi Operasional

Beberapa variabel atau obyek yang akan diteliti serta definisi operasional dalam rangka peningkatan kemampuan siswa mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan dengan pertimbangan moral dengan pokok bahasan Otonami Daerah yaitu sebagai berikut:

a. Aktivitas siswa dalam pembelajaran moral reasoning adalah banyaknya aktivitas yang dilakukan siswa selama proses belajar mengajar dan diamati dengan instrumen lembar observasi aktivitas siswa (Instrumen 01). Aktivitas siswa yang dimaksud meliputi mendengarkan atau memperhatikan penjelasan guru atau teman, membaca dan mendengarkan cerita delima moral), keberanian mengemukakan pendapat, kemampuan mengambil keputusan dengan pertimbangan moral, melakukan kerja sama , dan menghargai pendapat.

b. Aktivitas guru dalam mengelola pembelajaran moral raesoning dalam adalah sejumlah keterlibatan guru selama proses belajar mengajar yang diamati dengan instrumen lembar observasi (Instrumen 02). Aktivitas guru yang dimaksud meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan penutup yaitu memeriksa kesiapan siswa, melakukan apersepsi, menyampaikan tujuan pembelajaran, memotivasi siswa, menyajikan informasi tentang materi pelajaran, mendorong berani mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan, mendorong siswa untuk bekerja sama atau berinteraksi dalam diskusi, dan mengelola kegitaan pembelajaran sesuai kaidah pembelajaran moral reasoning)

c. Perkembangan moral siswa adalah tingkat perkembangan moral siswa dilihat dari alasan- alasan yang dikemukakan dari cerita dilema moral berdasarkan 6 tingkatan teori Kohlberg .

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dengan tiga siklus, dan tiap-tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan aktivitas dan kompetensi yang dicapai, berdasarkan perencanaan yang telah didesain sebelumnya. Pengamat melakukan observasi terhadap kegiatan yang dilaksanakan sebagai bahan diskusi untuk tujuan perbaikan.

Selain itu, juga dilakukan wawancara dengan siswa untuk mengetahui tanggapan siswa tentang model moral reasoning dan kekurangan pelaksanaan moral reasoning dalam proses pembelajaran. Berdasarkan hasil belajar (tingkatan perkembangan moral), hasil observasi dan wawancara peneliti melakukan diskusi untuk mengkaji kelemahan guna meningkatkan proses pembelajaran (refleksi).

Secara lebih ringkas prosedur pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini meliputi: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Beberapa hal yang dilaksanakan dari tiap tahapan adalah :

a. Perencanaan:

Kegiatan ini meliputi pembuatan skenario pembelajaran antara lain menetapkan metode pembelajaran yang berorientasi pada keterlibatan siswa sehingga siswa berani mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan dengan alasan dan pertimbangan moral yaitu menggunakan model pembelajaran Moral Reasoning dengan langkah-langkah sebagai berikut :

1. Peneliti menyiapkan cerita moral yang delimatis yang berasal dari kejadian masyarakat atau cerita fiftif.

2. Membuat lembar pengamatan untuk mengamati aktivitas siswa maupun aktivitas guru

b. Pelaksanaan tindakan

Dalam fase ini dilaksanakan proses belajar mengajar, dengan menekankan aspek aktivitas siswa terutama dalam mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan dengan alasan pertimbangan moral .

c. Observasi

Dalam tahap ini dilakukan observasi terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi yang telah dipersiapkan.

d. Refleksi

Data-data yang diperoleh melalui observasi dikumpulkan dan segera dianalisis. Berdasarkan hasil observasi inilah peneliti dapat melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang telah dilaksanakan. Berdasarkan hasil refleksi ini peneliti dapat mengetahui titik lemah maupun kelebihan sehingga dapat menentukan upaya perbaikan pada siklus berikutnya. Proses ini akan berlangsung tiga siklus, sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.

3. Sumber, Jenis, dan Tehnik Pengambilan Data

a. Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa dan guru dalam proses belajar mengajar

b. Jenis data yang diperoleh dalam penelitian ini meliputi :

1. Hasil observasi (aktivitas siswa dan guru)

2. Hasil wawancara (Tanggapan tentang model moral reasoning)

3. Hasil Kerja Siswa (Tingkatan perkembangan moral siswa)

c. Tehnik Pengumpulan Data

Tehnik Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan Observasi dukumen, dan Wawancara

4. Validitas Data

Validitas ini dimaksudkan sebagai pembuktian bahwa data yang diperoleh peneliti sesuai dengan yang benar-benar terjadi di lapangan dan sesungguhnya. Dalam penelitian ini digunakan democratic validity, artinya validitas ini berhubungan dengan tingkat kebenaran penelitian kolaboratif dan menerima masukan-masukan yang multiple (Burns, 1999: 161).

Selain pembuktian data dengan cara Burns, penelitian ini juga menggunakan triangulasi, yaitu suatu cara yang paling umum dan terbaik untuk mengecek validitas data. Terdapat tiga macam triangulasi yaitu: pemeriksaan yang menggunakan sumber data, metode, dan teori (Moleong, 1991: 176). Triangulasi sumber data digunakan dengan mengecek beberapa sumber data, misalnya dari beberapa orang guru. Metode digunakan dengan membandingkan data yang diperoleh melalui observasi, wawancara maupun dokumen. Sedangkan teori digunakan dengan melakukan kaji ulang setelah tindakan selesai dilaksanakan, mengenai apakah teori yang dipakai sebagai landasan masih sesuatu atau tidak.



5. Teknik Analisa Data

Analisis data dalam penelitian tindakan yaitu sejak tindakan pembelajaran dilaksanakan sampai pada pengembangan dan proses refleksi sampai penyusunan laporan. Teknik analisis data yang digunakan adalah model alur yang terekam dalam catatan lapangan, yang terdiri dari tiga alur kegiatan yang berlangsung secara bersamaan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Miles & Huberman, 1992: 20).

Reduksi data adalah kegiatan pemilihan data, penyederhanaan data serta transformasi data kasar dari catatan pengamatan. Hasil reduksi berupa uraian singkat yang telah digolongkan dalam suatu kegiatan tertentu. Penyajian data berupa sekumpulan informasi dari hasil rekaman pembelajaran dan pengamatan yang disusun, secara kolaborasi antara peneliti, guru dan siswa, sehingga mudah dipahami makna yang terkandung di dalamnya. Penarikan kesimpulan juga dilakukan secara kolaborasi yaitu dari peneliti dan guru serta subyek didik agar hasil lebih bermakna untuk peningkatan pembelajaran berikutnya, kemudian diadakan verifikasi untuk memperoleh kesimpulan yang kokoh, dengan cara diskusi bersama mitra kolaborasi.

4. Indikator Kinerja

Indikator keberhasilan dalam penelitian ini apa bila guru dapat melaksakanakan pembelajaran dengan baik diikuti dengan keterlibatan aktif siswa dalam proses belajar mengajar, dan setelah pelaksanaan belajar mengajar siswa dapat menunjukan unjuk kerja yang positif. Aktivitas siswa dalam proses pembelajaran terutama pada keberanian siswa mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan dengan alasan dan pertimbangan moral.

G. Jadwal Penelitian



H. Personal Penelitian

Jumlah Personal Peneliti 1 orang.

Nama : Mulyadi, M.Pd.

Jenis Kelamin : Laki-Laki

Pangkat/Jabatan : Pembina/Guru

Mata Pelajaran : Pendidikan Kewarganegaraan

Lembaga/Sekolah : SMP Negeri 22 Samarinda

Pengalaman Penelitian:

: 1. Skripsi (1998) : Peran Guru Menunjang Pelaksanaan Tata Tertib Sekolah

2. Tesis (2003) : Penanaman Nilai Demokrasi Melalui Pembelajran PPKn

3. PTK (1999) : Meningkatkan Aktivitas Siswa dengan Model VCT (Value crarification technik) pada Mata Pelajaran PPKN

I. Lampiran

1. Daftar Pustaka



Banks, J.A. 1985. Teaching strategies for the social studies. New York: Longman
Burns, Anne. 1999. Collaborative action research for English language teachers. Cambridge: Cambridge University Press.

Elis, J. L. 1989. Moral education: secular and religious. Florida: Robert E. Krieger Publishing Co., In
Fraenkel, J.R. 1977. How to teach about values: an analytic approach. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.

Goleman, D. 2003. Intelegensi Emosional. Alih bahasa : Hermaya, T. Jakarta : P.T.

Gramedia Pustaka Utama.

Hardoko, A. 2007. Pengembangan Model Kombinasi Moral Reasoning Kooperatif PKn Pada Siswa SMP Berbeda Jenis Kelamin Serta Pengaruh Implementasinya Terhadap Kematangan Moral Siswa. Samarinda. Universitas Mulawarman

Hersh, R. et al. 1982. Models of Moral Education. New York : Longman

Kohlberg, L. 1971. Stages of moral development as a basis of moral education. Dlm. Beck, C.M., Crittenden, B.S. & Sullivan, E.V.(pnyt.). Moral education: interdisciplinary approaches: 23-92. New York: Newman Press.

Kohlberg, L. 1971. Moral Education of Psychological View ( dalam Lee C. Deighton

: The Encyclopedia of Education, Vol 6. The Macmillan Company.



Kohlberg, L. 1977. The cognitive-developmental approach to moral education. Dlm. Rogrs, D. Issues Lungdren, L. 1994. Cooperative Learning in The Science Classroom. New York: McGraw Hill Companies.



Mathew, M. B. & Hoberman, A. M. 1984. Qualitative data analysis. London New Delhi : Sage Publications Beverly Hills.



Moleong, L. J. 2001. Metodologi penelitian kualitatif. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

Reimer, J. et al. 1979. Promoting moral growth from piaget to kohlberg. New york & London: Longman Inc.

Ryan, K. 2003. Character Education: Our High School’s Missing-Link, Educational. Week. http:/www.edweek.org/ew. Diakses 12 Nopember 2004



Roestiyah. 1982 . Masalah masalah ilmu keguruan. Jakarta: Bina Aksara.

Superka, D.P. 1973. A typology of valuing theories and values education approaches. Doctor of Education Dissertation. University of California, Berkeley.

Superka, D.P., Ahrens, C., Hedstrom, J.E., Ford, L.J. & Johnson, P.L. 1976. Values education sourcebook.Colorado: Social Science Education Consortium, Inc.

Thompson, M., McLaughlin, C.W., & Smith, R.G. 1995. Merril Physical Science Teacher. Wraparound Edition. New York: Glencoe McGraw-Hill

Windmiller, M. 1976. Moral development. Dlm. Adams. J.F. (pnyt.). Understanding adolescence: current developments in adolescent psychology: 176-198. Boston: Allyn and Bacon, Inc.

Zakaria,T. R. 2000. Pendekatan pendekatan pendidikan nilai dan implementasi dalam pendidikan budi pekerti. http:// www.pdk.go.id./jurnal/26/htm. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. 26, Diambil pada tanggal 30 Maret 2002.



Dilema Ibu Rumah Tangga Bekerja Di Luar Rumah

Oleh Mulyadi, M.Pd.

Wakil Sekretaris PGRI Samarinda, Pemerhati Pendidikan dan Moral Anak (PPMA)
Dimuat Harian Kaltimpost tanggal 26 Desember 2005

Tulisan ini penulis hadirkan dalam rangka memperingati hari Ibu tanggal 22 Desember 2005, dan berusaha memaparkan delima seorang ibu rumah tangga bekerja di luar rumah. Seorang ibu memiliki peranan penting dan stategis dalam berbagai kehidupan, baik di keluarga, masyarakat maupun kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun demikian, seorang ibu sering mendapatkan perlakuan yang tidak semestinya diterima. Dalam masyarakat kita masih meremehkan peran ibu. Mereka dianggap sebagai konco wingking (teman dibelakang) artinya seseorang yang pekerjaanya hanya memasak dan mengasuh anak. Bahkan masih ada sebagian suami yang berpola pikir istri hanyalah sebagai pemuas nafsu.

Dalam era reformasi paradigma tersebut seharusnya sudah tidak ada lagi. Dalam era global sekarang ini, sangat memerlukan peran yang lebih dari seorang ibu. Seorang ibu tidak hanya sebagai pendamping suami dan pendidik anak saja tetapi lebih kompleks. Maka dari itu, hal ini memerlukan kerja keras dan dorongan dari semua pihak terutama sang suami agar istrinya dapat lebih berperan dalam berbagai kehidupan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memberikan kesempatan dan dorongan untuk lebih maju dan berprestasi.

Ibu berfungsi sebagai pendidik dan pengasuh bagi putra-putrinya serta bertanggung jawab atas perkembangan pribadi anak, baik secara fisik, mental maupun sosial. Anak membutuhkan perhatian, bimbingan, nasehat, pengawasan dan contoh-contoh yang baik dalam berbagai hal. Contohnya dalam berbicara dan bertingkah laku, anak banyak meniru perilaku orang yang berada di sekelilingannya baik dari ibu, bapak maupun anggota keluarga yang lain. Maka tidaklah mengherankan jika anggota keluarga yang sering berkata kotor tidak harmonis berdampak kepada anaknya. Sebaliknya keluarga yang harmonis hubungan sesama anggota keluargannya juga memetik hasil yang telah dilakukannya

Untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan membantu sang suami mencari nafkah, tidak sedikit seorang ibu harus bekerja di luar rumah. Profesi yang dijalani antara lain sebagai PNS, politisi, karyawan perusahaan, maupun sebagai penyapu jalanan. Hal ini dilakukan semata-mata untuk mendukung kebutuhan keluarga dan demi rasa cintanya kepada anak dan suami

Namun demikian, tidak semua suami dapat memberikan kesempatan kepada istrinya untuk berkembang dan berkarir dengan berbagai alasan seperti takut tersaingi, pendidikan anak tidak terurus, takut terpengaruh perilaku negatif dll. Jika yang terjadi demikian, apa yang harus dilakukan oleh istri apakah menerima begitu saja kemauan suami? Atau sebaliknya melawan sang suami. Untuk menyelesaikan hal tersebut hendaknya dilakukan dengan cara damai, bermusyawarah untuk kebaikan bersama. Sebagai seorang suami seharusnya berpikir bijaksana dan obyektif, jika memang istrinya memiliki kemampuan mengapa tidak diizinkan untuk berkarir dengan catatan masalah keluarga tidak terabaikan.

Bekerja di luar rumah bagi sebagian ibu rumah tangga masih menjadi dilema. Pada satu sisi mereka mendapatkan keuntungan karena mendapatkan penghasilan tambahan, tetapi di sisi lain anak-anak memerlukan kehadirannya. Di samping itu, ibu rumah tangga yang bekerja di luar rumah memiliki dampak baik pada diri sendiri maupun kepada putra putrinya. Dampaknya terhadap anak sangat beragam, antara lain menyangkut kesehatan, keamanan, kebahagiaan, pendidikan nilai-nilai agama dll. Kemudian muncul pertanyaan apakah ibu yang bekerja di luar rumah berpengaruh negatif terhadap perkembangan anak? Hal ini memerlukan telaah yang cermat sebagai jawaban yang komprehensip.

Dalam kenyataanya, tidak semua anak yang ibunya berkerja diluar rumah perkembangan jiwa dan fisiknya negatif. Hal ini disebabkan mereka tetap mengadakan hubungan dengan anak dan keluargannya secara harmonis. Oleh kerena itu, yang terpenting yang harus dilakkan oleh seorang ibu adalah bagaimana mereka dapat mengelola waktu secara efektif dan efesien serta komunikasi yang interaktif antara anggota keluarga.

Tantangan bagi ibu rumah tangga yang bekerja di luar rumah sangat berat. Mereka sebagai ibu rumah tangga bertanggung jawab terhadap suami dan anak-anaknya. Sedangkan, sebagai pekerja mereka yang harus mengikuti peraturan yang berlaku di tempat kerja. Sebagai konsekuensinya, mereka harus pandai-pandai membagi waktu dan menjaga diri. Dengan demikian, mereka dapat menjalan fungsi gandannya yaitu mendidik anak, mengurus rumah tangga, dan sebagai wanita karir berprestasi yang aktif dalam masyarakat..

Anak sesungguhnya membutuhkan “afeksi” yang langsung dari orang tua dan itu tidak bisa digantikan perannya oleh pembantu atau orang lain. Keakraban, kedekatan hubungan anak dengan orang tua merupakan salah satu faktor yang membuat anak tumbuh dan berkembang sehingga setelah dewasa mempunyai perhatian pada orang lain. Menurut (Khairunnisa, 2001) dalam artikelnya mengatakan : “Merawat anak dan mendidiknya pada era teknologi bukan perkara mudah apalagi permainan anak dan tontonannya tidak lagi berupa hal-hal sederhana tapi perlu perhatian dan wawasan luas karena hal tersebut bagian dari target kapitalisme global”.

Berdasarkan hal tersebut sebagai orang tua kita harus selektif dalam memilih program tanyangan televisi. Anak harus didampingi saat mereka menonton televisi sehingga sedini mungkin dapat kita cegah pengaruh pengaruh negatif. Dengan mendampingi anak menonton tanyangan televisi kita dapat menjelaskan hal hal yang tidak difahami oleh anak. Disitulah terjadi dilog yang harmonis dan mesra antara orang tua dengan anak..

Mendidik anak bukan hanya tanggung jawab ibu semata tetapi merupakan tanggung jawab bersama antara Ayah dan Ibu.Tidaklah adil jika masalah pendidikan anak sepenuhnya diserahkan kepada Ibu, apalagi dia juga bekerja di luar rumah membantu suami mencari nafkah. Tindakan mau menang sendiri dan sikap feodal sang suami harus ditinggalkan. Jika tidak maka akan berakibat fatal dalam keluarganya (disharmonis) karena ada yang tertekan dan tersiksa.

Ada beberapa srtategi dan langkah yang dapat digunakan untuk oleh orang tua terutama ibu dan bapak yang bekerja diluar rumah agar tetap dapat memonitor, berkomunikasi secara mesra sesama anggota keluarga sehingga keharmonisan rumah tangga terjaga. Strategi tersebut adalah sebagai berikut:

Pertama, memberikan keteladan pada anak. Masyarakat kita merupakan masyarakat patneralistik artinya selalu melihat atasanya atau pimpinan dalam bertindak. Sebagai pemimpin dalam keluarga setiap orang tua menghendaki anaknya berperilaku baik seperti sopan, berdisiplin, taat beribadah, dan taat kepada kedua orang tuanya. Dalam hal ini anak sering menghadapi masalah delematis disatu sisi orang tua menghendaki mereka berbuat baik tetapi disisi lain orang tua tidak memberikan contoh pada anak-anaknya.

Akibatnya apa yang diinginkan orang tua agar anaknya berperilaku baik tidak terwujud, malah perilaku yang muncul dari anak justru sebaliknya. Oleh karena itu, tindakan yang kita lakukan haruslah dapat menjadi contoh bagi anak, baik ucapan maupun perbuatan. Kita harus menyadari bahwa anak pertama kali belajar dari orang tuanya dan lingkungan keluarganya. Apa yang sering dilakukan oleh ortu biasanya itu juga yang dilakukan anak.

Kedua, meluangkan waktu untuk berkumpul dengan keluarga. Hubungan orang tua dengan anak yang baik memerlukan waktu yang memungkinkan mereka berkumpul secara fisik. Hal ini lamanya tidak perlu berjam-jam, yang penting orang tua secara konsisten meluangkan sedikit waktu bersama anak-anak setiap hari. Tujuannya adalah untuk mengetahui dan memahami kebutuhan anak-anak serta berbagi rasa sesama anggota keluarga. Dengan demikian, dapat dikembangkan sikap toleransi yang akhirnya menciptakan ketentraman keluarga. Saat berkumpul bersama anggota keluarga orang tua hendaknya menjauhkan gangguan dan lebih berkonsentrasi kepada mereka. Ingat bahwa waktu adalah tonggak penyangga pengasuhan yang baik.

Ketiga, selalu siap untuk menjadi pendengar yang baik. Kebanyakan ortu menganggap dirinya selalu benar, sedangkan pendapat anak diposisikan salah bahkan ada orang tua yang tidak mau sedikitpun mendengarkan apa yang ingin disampaikan anak. Orang tua biasanya merendahkan gagasan anaknya atau rajin mengkritik kata-katanya. Akibatnya anak menarik diri dan memilih lebih dekat kepada teman. Sebenarnya jika anak-anak mengetahui bahwa kita benar-benar mendengarkan apa yang mereka katakan, mereka akan lebih bersemangat untuk berbagi perasaan dan pikiran. Maka dari itu, jika ingin memiliki pengaruh dalam kehidupan anak, orang tua harus mau menjadi pendengar yang baik.

Keempat, menentukan harapan anak yang jelas. Memberitahukan anak apa yang kita harapkan darinya akan membentuk perilaku yang baik. Hal ini bukan berarti orang tua memaksakan kehendak kepada anak untuk mengikuti kemauannya tetapi anak tetap diberikan kebebasan memilih apa yang diinginkan, orang tua hanya sebagai motivator dan pengiring apa yang diinginkan anak tersebut. Jangan ragu-ragu melibatkan mereka dalam pekerjaan sehari-hari untuk membantu menyelesaikan tugas-tugas di lingkungan rumah. Melibatkan anak dalam urusan keluarga dapat menumbuhkan sikap positip sehingga mereka merasa menjadi bagian dari keluarga.

Kelima, jangan membiarkan diri merasa bersalah. Banyak orang tua merasa bersalah karena bekerja seharian di luar rumah, kewajiban untuk mendidik anak terabaikan. Sebagai kompensasinya, mereka membiarkan anak berperilaku buruk dan tidak disiplin. Orang tua yang baik adalah yang tegas namun tetap mengedepankan pendekatan Psykis dan dialogis. Merasa bersalah atas tindakan yang dilakukan kepada anak justru merupakan tindakan kontraproduktif yang tidak dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi. Oleh karena itu, sebagai orang tua harus berusaha untuk menghilangkan selalu merasa bersalah yang ada pada dirinya.

Keenam, jangan menggantikan kasih sayang atau waktu dengan uang. Kasih sayang arang tua terhadap anak merupakan benih yang dapat menciptakan keakrapan dan ketentraman dalam keluarga. Namun, penempatan kasih sayang yang kurang tepat atau salah justru mendatangkan masalah. Misalnya memanjakan anak dengan banyak memberi uang saku untuk belanja di sekolah dan memberikan apa yang diminta. Tindakan ini akan mengakibatkan anak melakukan tindakan yang salah.

Memang mengajarkan anak-anak bagaimana mengelola uang itu penting, tetapi jangan gunakan uang sebagai pengganti waktu atau kasih sayang. Kita sebagai orang tua harus berusaha mendidik anak untuk mandiri, bagaimana memperoleh sesuatu dengan berusaha dan sesuai dengan keinginanya. Hal ini tentu dengan bekerja keras, bahwa sesuatu yang diperoleh melalui bekerja akan lebih terasa nilainya.

Ketujuh, jangan sering menganti pengasuh. Menggunakan pengasuh merupakan alternatip bagi suami istri yang bekerja di luar rumah. Namun, hendaknya jangan sering ganti pengasuh karena dapat mempengaruhi psikis anak (membahayakan anak). Sebelum menyerahkan anak kepada seorang pengasuh, kita harus memberikan kesempatan untuk terciptanya keakraban dan kedekatan antara anak dan si calon pengasuh.

Kedelapan, memberikan pengawasan. Anak biasanya akan mengeluh kalau diawasi secara ketat, tetapi anak-anak yang tidak diawasi juga merasa bahwa orang tua mereka tidak peduli dengan mereka. Sebagai konsekuensinya ortu tetap memberikan pengawasan tetapi dengan kooperatif dalam artian kita memberikan kebebasan kepada anak namun pengawasan tetap kita lakukan. Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang bermasalah sering berasal dari keluarga yang kurang atau tidak diawasi. Oleh karena itu, Orang tua perlu mengetahui siapa teman-teman anaknya sehingga lebih mudah untuk mengontrol.

Kesembilan, berikan perhatian dan penghargaan. Biasanya orang tua cenderung lebih memperhatikan anak-anak ketika mereka menjengkelkan. Sebaliknya saat mereka berperilaku yang positif atau baik malah tidak diperhatikan. Sebagai ortu kita hendaknya juga memperhatikan anak jika berperilaku baik, berilah perhatian dan penhargaan kepadanya misalnya ucapaan selamat atau sanjungan atas tindakan yang telah dilakukan. Hal ini akan mendatangan perilaku yang positip pada diri anak. Perhatian dan dorongan dari ortu dapat membangkitkan motivasinya untuk berbuat lebih dari apa yang telah mereka lakukan.

Kesepuluh, memberikan hukuman untuk mendidik. Orang tua yang bekerja di luar rumah, cenderung mengalami kelelahan dan mudah jengkel. Oleh karena itu, wajar jika mereka lebih mudah kehilangan kontrol terhadap anak-anak. Hal ini dapat menimbulkan masalah dalam keluarga. Ortu harus memegang prinsip “Janganlah menghukum anak jika kita sendiri tidak dapat mengontrol diri dengan baik”. Menghukum anak hanyalah bermaksud untuk mendidik, bukan untuk melampiaskan kemarahan. Namum demikian, sejauh mungkin kita harus menghindari hukuman fisik karena tindakan ini kontraproduktif. Semoga strategi ini dapat membantu Anda dalam mendidik anak. Amin.